Coronaisasi Literasi
Begitu dahsyatnya akibat yang ditimbulkan oleh virus corona ini sehingga ditetapkan menjadi wabah dunia. Dunia mencekam, orang-orang resah, gelisah, dan cemas karena takut terkena corona virus diseases (Covid-19) ini.
Saya membayangkan bagaimana kalau lemahnya budaya literasi seperti wabah corona. Negara menjadi cemas karena buta huruf masih ada, Negara gelisah karena masyarakt malas membaca, pemerintah segera membuat satuan gugus tugas karena sekolah, dan perpustakaan mengalami kelangkaan informasi, malah banyak yang akan sekarat karena digilas keccerdasan buatan.
Negara mengumumkan lemahnya budaya literasi menjadi bencana nasional. Physical distancing diberlakukan bagi orang yang kedapat tidak suka membaca buku. Dan social distancing diberlakukan bagi daerah yang tidak memiliki perpustakaan. Orang-orang yang belum bisa membaca dan belum memiliki tradisi literasi di-lock down di perpustakaan-perpustakaan sampai memiliki kebiasaan membaca.
Anggaran yang terkumpul ratusan triliun itu segera dialokasikan sebagaian untuk membuat pusat-pusat informasi modern di seluruh daerah. Dana juga digelontorkan untuk riset budaya literasi supaya menghasilkan formulasi dan inovasi sebagai vaksin “wabah literasi”. Social safety net berupa paket-paket buku bermutu dibagikan kepada setiap fakir miskin informasi. Pelatihan-pelatihan kecerdasan literasi digalakan terutama untuk pelajar dan mahasiswa sebagai upaya cerdas menangkal pengangguran yang jumlahnya semakin menggila.
Negara sadar bahwa baik corona maupun lemahnya literasi akan berdampak kepada kematian. Corona membawa kematian secara fisik maka lemahnya budaya literasi membawa kematian bagi peradaban.
“Bangun, bangun, bangun!” Ternyata saya menjadi banyak melamun karena sudah terlalu lama work from home.