Ketika Literasi Bersemi
Entah berapa kali saya bertandang ke Kota Sukabumi, semenjak menjadi tenaga ahli bidang literasi. Sukabumi memantapakan diri ingin menjadi Kota Literasi. Dengan program Gerakan Literasi Sukabumi (GEULIS). Tapi kedatangan saya kali ini yang paling berkesan. Begini ceritanya:
Pada tanggal 30 Oktober 2019 bertempat di sebuah hotel, Dinas Perpustakaan dan Kerasipan Daerah (DISPUSIP) mengadakan pelantikan 200 siswa/sisiwi Sahabat Geulis dari 20 sekolah, yang akan menjadi agen literasi di sekolah-sekolah. Acara yang bertema “Berprestasi Dengan Budaya Literasi” ini dihadri oleh Wali Kota dan Bunda Literasi yang memang sangat support terhadap pembangunan kota literasi.
Saya didaulat untuk memberikan pembekalan kepada mereka. Pada saat menerangkan bahwa orang-orang besar dan para pahlawana adalah kutu buku, saya berkata “ Bung Hatta melamar Ibu Rahmi dengan mas kawin buku yang dikarangnya sendiri, dengan judul Alam Pikiran Yunani, yang dia tulis di pembuangan (Digul). Adakah di antara teman-teman yang bersedia dilamar dengan buku?” Tak disangka dari barisan tengah ada seorang siswi yang mengacungkan tangan sambil berkata, “saya bersedia Pak”. Maka semua yang hadir kaget. “Anda serius” tanya saya. “Serius Pak” jawabnya. Maka saya suruh kedepan siswi tersebut. Saya berkata “ Ini ada buku dengan judul Mereka Besar Karena Membaca karangan saya. Anda bersedia untuk menerimanya”. Di luar dugaan dia menjawab, “bersedia Pak”. Gdubrakkkkkkk…!
Sebagai apresiasi terhadap siswi tersebut, yang telah memuliakan buku, saya berikan buku itu, dan tentu saja saya tidak berani melamarnya. Pada waktu acara selesai, saya sedang berbincang dengan bapak Cabang dinas Pendidikan provinsi Jawa Barat, siswi tersebut manghampiri saya dan bertanya, “Bapak serius?”
Itulah kenekatan kaum milenial yang hatinya bisa ditaklukan dengan pendekatan literasi. Jadi, untuk meluluhkan hati seorang wanita, tidak mesti dengan uang dan perhiasan, tulislah sebuah buku. Anda mau mencoba?