Pustakawan (Tidak) Mau Mati
Oleh:
Suherman
Pamong Akademi Kecerdasan Literasi (AKAL)
Kemajuan teknologi ITC (internet, telekomunikasi, dan computer) dan kecerdasan buatan (artificial intelligent) seperti membawa dua sisi yang berlawanan: berkah dan musibah. Dianggap berkah karena dengan hadirnya teknologi ini pekerjaan-pekerjaan manusia bisa lebih efisien. Akan tetapi di sisi lain menjadi musibah karena hilangnya banyak pekerjaan atau profesi yang sudah mapan berabad-abad. Kercedasan buatan selain menjadi determinator juga menjadi terminator yang tidak memiliki belas kasihan. Menurut prediksi ada 10 profesi yang segera akan hilang: guru/dosen, pustakawan, teller, kasir, dll. Kini kita saksikan prediksi itu terbukti satu demi satu. Itu ibarat takdir yang tidak bisa dihindari, dan pustakawan tinggal menghitung hari.
Tidak ada yang perlu ditangisi dan disesali karena itu sudah merupakan hukum besi kemajuan. Yang harus kita lakukan adalah antisipasi, adaptasi, dan berbenah diri menjaga relevansi supaya tidak ikut mati. Perpustakaan boleh saja hilang profesi boleh saja berganti atau mati, tapi pribadi pustakawan harus tetap hidup bahkan terus berkontribusi. Di awal lahirnya, pustakawan adalah pribadi yang multitalenta karena setiap saat bergelut dengan informasi. Pustakawan selalu menempati poisisi yang terhormat di pusat perubahan, kalau tidak di pusat kekuasaan berada di pusat spiritual.
Di tengah arus perubahan ekosistem data dan informasi yang semakin akseleratif bisakah pustakwan kembali merebut posisi terhormat seperti itu setelah sekian lama mengalami degradasi? Atau minimal menjaga eksistensinya supaya tidak tersapu oleh badai perubahan? Bukan suatu hal mustahil, bahkan bukan suatu yang teramat sulit untuk digapai, akan tetapi tentu saja ada konsekuensinya. Menurut saya minimal ada tiga syarat yang harus dipenuhi supaya pustakawan tetap relevan di sepanjang zaman.
Pertama, mengubah paradigma dan pola pikir. Perubahan lingkungan sangat berpengaruh terhadap kita, akan tetapi kita tidak bisa mengontrol lingkungan di mana kita berada. Oleh karena itu yang bisa kita lakukan adalah menyesuaiankan diri dengan lingkungan supaya tetap bertahan dan relevan.. Lingkungan ada yang tidak bisa dihindari (given) seperti geografi dan demografi. Terhadap lingkungan ini kita sulit untuk menghindari dan melakukan antisipasi. Lingkungan yang kedua adalah lingkungan kebudayaan, hasil kemajuan daya cipta manusia seperti teknologi. Terhadap perubahan lingkungan ini kita wajib melakukan penyesauain dan antisipasi supaya tida tertinggal dan tergilas oleh perkembangan. Caranya adalah dengan mengubah paradigma atau pola pikir dalam melihat perubahan. Karena, “hanya orang gila yang mengharapkan hasil berbeda dengan cara yang sama” kata Einstein.
Peran utama pustakawan adalah melakukan akuisi bahan pustaka, mengelolanya, dan memberikan layanan kepada pemustaka supaya mendapatkan bahan pustaka dengan mudah, tepat, dan nyaman. Kita telah menempuh sejarah kepustakawanan dalam tiga gelombang peradaban: Gelobang I (pertanian), Gelombang II (industri), dan Gelombang III (informasi). Dalam gelombang I dan II peran utama pustakawan relatif sama, misalnya dalam mengelola sumber informasi (buku, jurnal, dll.). Sebagaian besar tugas pustakawan adalah prosesing sumber informasi yang berupa akuisisi, klasifikasi, katalogisasi, lalu diseminasi.
Gelombang ketiga (era informasi) terjadi pegesaran yang cukup signifikan karena terdampak oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka kita beralih dari konvesional ke perpustakaan hybrid yaitu perpaduan antara konvesional dan digital. Di era ini mulai bermunculan software sisitem informasi menajemen perpustakaan, sehingga pekerjaan-pekerjaan teknis mulai diambil alih oleh mesin. Dengan ditemukannya internet terutama mesin pencari (Google) maka pekerjaan utama yang pertama yaitu mencari informasi (istilah dahulu: penelusuran atau temu balik informasi) diambil alih oleh mesin. Sekarang ini semua orang sudah bisa dengan mudah mencari informasi melalui mesin pencari yang ada di gengamannya, maka separuh nyawa pustakawan melayang.
Gelombang keempaat (disebut juga Industri 4.0). Di era ini hampir seluruh pekerjaan atau layanan teknis kepustakawanan diambil oleh oleh kecerdasan buatan (artificial intelligent). Maka profesi pustakawan terampas! Mau memberikan layanan sudah ada aplikasi, mau memroses sumber informasi sudah ada software, mau menyusun buku sudah ada robot. Terus pustakawkan mau ngapain?
Berkaitan dengan paradigma juga adalah perubahan sikap mental, pustakawan harus melakukan revolusi mental supaya tetap relevan. Tinggalkanlah mentalitas lama dengan ciri-ciri utama sebagai berikut: beriorientasi pada jabatan atau posisi; menunggu perintah dan banyak bertanya (asking); bersikap reaktif pada perubahan; dan merasa nyaman karena fasilitas dan tunjangan (mediocre). Mentalitas yang diperlukan supaya dapat bertahan dan relevan adalah orientasi pada kontribusi, inisiatif dan kreaif (thinking), antisipatif dan perencanaan (forecasting) berani mengambil resiko (take risk).
Di era New Normal akan terjadi pergeseran besar (megashifting) pada semua bidag bidang kehidupan sosial, ekonomi, poltik, dan budaya. Pustakawan harus cepat sadara bahwa era New Normal adalah disrupsi, yang tidak cepat berubah akan cepat pula musnah. Yang tadinya kita sudah tenang karena terbiasa berenang di kolam atau danau dengan elusan alun dan riak ditambah angin yang sepoy-sepoy, sekarang harus berhadapan dengan gelombang dahsyat di laut lepas. Jadi, hanya ada dua pilihan: berubah atau mati!
Kedua, Meningkatkan Kapasitas. Di era New Normal pekerjaan utama pustakawan adalah mengelola data dan informasi (kontennya) bukan kontainernya (buku). Jadi trasformasi dari kontainer ke konten. Ada yang berkomentar, “oh itu perkejaan konsultan.” Sekarang kita tigak bisa lagi mengelak, kitalah yang harus jadi konsultannya. Oleh karena itu tugas pertama putakawan adalah membaca buku-buku itu supaya tahu isinya.
Keahlian yang wajib dimiliki oleh pustakawan kekinian adalah manajemen data atau informasi supaya bisa memberikan nilai tambah pada informasi. Manajemen informasi bukan manajemen sumber informasi. Ada beberapa profesi yang bisa diambil oleh pustakawan: data expert, information expert, dan data analyst.
Kecakapan lain yang harus dimiliki adalah manajemen pikiran. Ini harus kita miliki sebelum melakukan manajemen data atau informasi. Saya teringat dengan ucapan Soichiro Honda, pendiri imperium Honda, pada seorang karyawannya, “sebelum memperbaiki roda mobil yang lebih penting lagi adalah membereskan roda pikiran yang ada di kepalamu”
Manajemen pikiran perlu dilakukan supaya kita bisa meningkatkan kemampuan berpikir agar kita bisa mengelola data dan informasi yang berkualitas. Ada dua kategori kemempuan berpikir: Pertama, kemampuan berpikir yang bersifat hirarkis (daya serap, daya analisis, daya kontruksi, dan daya cipta). Kedua, kemampuan berpikir yang bersifat dimensional (makro-mikro dan strategis-taktis). Dengan kemampuan berpikir seperti itu maka kita dapat melakukan valuasi dan nilai tambah pada data dan informasi yang kita kelola.
Ketiga, membuat karya unggulan. Dengan berkembangnya kecerdasan buatan sampai kapan layanan—kegiatan utama pustakawan—akan bertahan? Bisakah kita membuat layanan alternatif yang tidak bisa dilakukan oleh mesin? Intinya adalah kreativitas, bisa membuat yang baru atau membuat nilai tambah pada yang sudah ada. Kalau kita perhatikan, wabah Covid-19 berdampak pada semua bidang industri kecuali satu, yaitu industri pemikiran yang menjual ide atau gagasan.
Karya unggulan yang kita buat tentu saja harus berdasar kepada analisis kebutuhan sosial yang berisi peta permasalahan dan kontribusi yang dapat kita berikan unutk membantu atau memberikan soslusi terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Era pustakawan sebagai pelayan sudah berakhir. Kini pustakawan harus menjadi kreator atau produser informasi yang memiliki nilai tambah bagi pemustaka.
Banyak hasil riset yang dilakukan orang lain yang dapat kita jadikan acuan untuk berkarya. Misalnya yang berkaitan dengan riset tentang tingkat rasionalitas publik atau budaya literasi. Dari data ini kita dapat membuat produk atau karya unggulan untuk berkontribusi dalam memecahkan masalah bangsa. Tesis lain yang menarik adalah akankah seluruh buku konvesional hilang ditelan gelombang digital ? Disinilah pustakawan dituntut untuk melakukan forecasting dan kemudian membuat berbagai macam karya atau skenario alternatif untuk menjawabnya.
Tentu saja bukan hanya tiga langkah di atas yang memungkinakan pustakawan bisa mempertahankan dan memperkuat eksistensinya. Tapi tiga hal itu adalah syarat mutlak yang harus dimiliki (conditio sine qua non), apabila tidak memilikinya maka bersiaplah untuk memasuki alam keabadian.