Akhirnya, tujuan dari konspirasi literasi adalah hilangnya roh atau jiwa keindonesiaan. Kalau kita merujuk pada lokasi geografis yang bernama dan berbendera Indonesia, mungkin sampai  akhir zaman akan tetap ada.  Akan tetapi hanya sekadar wujud fisik saja.. Generasi milenial dan gnerasi-Z gak bakalan punya yang namanya jiwa keindonesiaan atau nasionalisme. Gak bakalan ada ikatan lagi kecuali pada pertandingan olah raga.

Kalau hanya sekadar maju secara fisik bakal terjadi karena kekayaan alam Indonesia, akan tetapi tetap saja seperti sekarang ini, alon-alon yang kunjung kelakok. Gak bakalan jadi pionir dalam bidang apa pun. Memang individu yang menonjol bakal ada dalam bidang non-publik. Dan itu akan tumbuh kembang bila keluar dari raga keindonesian yang sekarang. Indonesia yang sekarang bukanlah Indonesia yang dicita-citakan oleh Bung Karno:

Bangsa Indonesia harus mempunyai isi-hidup dan arah-hidup. Kita harus mempunyai Levensinhould dan Levensrichting. Bangsa yang tidak mempunyai isi-hidup dan arah-hidup adalah bangsa yang hidupnya tidak dalam, bangsa yang dangkal, bangsa yang cetek, bangsa yang tidak mempunyai Levensdiepte samasekali. Ia adalah bangsa penggemar emas sepuhan, dan bukan emasnya batin. Ia menggunakan kekuasaan pentung, bukan kekuasaan moral. Ia menyembah berhala kemasyhuran, bukan menyembah Tuhan. Ia cinta kepada gebyarnya lahir, bukan kepada nurnya kebenaran dan keadilan. Ia kadang-kadang kuat, tetapi kuatnya adalah kuatnya kulit, padahal ia kosong-melompong di bagian dalamnya!”

Kembali