Prestasi puncak para pejabat  fungsional,    peneliti, dosen, pustakwan, dll adalah apabila tulisannya dimuat di jurnal ilmiah internasional terindeks scopus dan ini memiliki angka kredit yang besar. Angka kredit sangat dibutuhkan untuk naik jabatan, kenaikan tunjangan, dan untuk maju menjadi professor. Demi angka kredit tersebut berbagai macam usaha baik haram maupun halal dilakukan, dimuatnya tulisan jurnal internasional seperti lolos ujian masuk surga.

Peluang ini banyak dimanfaatkan oleh para petualang nakal atau cerdik. Maka dibuatlah journal-journal internasional abal-abal, yang disebut juga journal fredator, untuk menampung karya-krya ilmiah terutama dari Indonesia. Tentu saja semuanya berbayar. Mereka sangat paham dengan mentalitas feodalisme bangsa Indonesia yang gila hormat, gila identitas, sehingga ada pribahasa “biar tekor asal kesohor.”

Karya tulis ilmiah biasanya merupakan laporan hasil dari penelitian yang tentu saja  menghabiskan dana ratusan juta rupiah bahkan kalau berupa kelompok penelitian bisa mencapai miliran rupiah. Sekarang ini tujuan utama penelitian adalah menghasilkan paper untuk angka kredit, sedangkan produk utamanya misalnya prototipe atau inovasi biasanya tidak menjadi prioritas, gagal atau berhasil, berguna atau  tidak, tidak jadi masalah yang penting paper. Akan tetapi hasil penelitian ini anehnya disetorkan secara sukarela bahkan suka cita kepada orang/negara lain melalui jurnal internasional.

Jadi ide, gagasan, formulasi, dll. hasil jerih payah—dan  menghabiskan uang Negara yang banyak itu—yang  tertuang dalam paper diserahkan kepada orang lain dengan imbalan berupa gula-gula yang namanya publikasi internasional. Dibayar dengan kembanggaan semu bahwa karyanya sudah mendunia. Jadi,  untuk mengetahui Indoneisia (isi perut bumi, sosial, budaya, dll.) cukup bikin journal intrnasional saja, tidak usah lagi datang ke Indonnesia.  

Kembali