Hampir 90 persen sejarah Indonesia dutulis oleh  bukan orang Indonesia yang disebut dengan indonesianis. Dan ini sudah berjalan lama sekali. Salahkah? Tentu saja tidak. Hanya harus waspada saja.  Dunia ini pasar bebas bagi indutri pemikiran, ide, dan gagasan. Siapa kuat dia yang kuasa. Pada level ini tidak ada norma dan etika.

Mereka begitu serius mempelajari Indonesia sampai suku bangsa seperti Jawa (Javanologi), Sunda (Sundanologi), dll. Hasil karya  mereka dijadikan rujukan oleh orang Indonesia karena dianggap lebih objektif dan lebih ilmiah. Jadi yang terjadi adalah bangsa Indonesia melihat Indoneisa menurut kacamata mereka. Sehingga dalam hal menyusun kebijakan apapun tidak aneh apabila tidak sesuai dengan roh/jiwa keindonesiaan.  

Sekarang ini, untuk mempelajari Indonesia tidak mesti datang ke Indonesa. Tinggal memberikan beasiswa untuk belajar di negerinya yang apabila sudah beres dihadiahi ijazah dan gelar yang keren . Yang mengerjakan biarkan orang Indonesia sendiri dan hasilnya tinggal disetorkan ke pihak negara donor atau donatur. Misalnya, tahun lalu ada seorang teman yang melanjutkan studi di luar negeri bidang pendidikan dengan syarat harus mempelajari sistem pendidikan di Kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya sebagai desertasinya. Sampai hari ini dia tidak paham mengapa mesti Kampung Naga?  buat apa?

Indonesis menurut prespektif orang Bule tentu saja  mengandung bias budaya dan yang paling banyak adalah bias idologi. Misalnya, Indonesianis yang mempelajari para pahlawan Indonesia, rata-rata mereka melihat bahwa terjadinya perjuangan,  perlawan, atau pemberontakan  karena motif-motif kekuasaan atau poitik, sedangkan motif keagamaam biasanya ditiadakan. Walapun ada, tapi dikesankan bahwa agama hanya dijadikan alat  untuk tujuan politik. Coba pelajari Biografi Diponegoro karangan Peter Carey . Dalam buku tersebut  ada kesan bahwa Diponegoro adalah orang yang sang ambisius atau haus kekuasaan, ingin menjadi raja Jawa, dengan menghalalkan segala cara termasuk manipulasi spiritual. Tidak ada motif-motif keagaam.

Mengapa mereka mempelajari Indonesia? Percayakah hanya sekadar untuk tujuan ilmiah?. Tentu saja tidak, di balik studi itu adalah kekuasaan (soft power), imperaialisme dalam bidang  sosial, ekonomi, politik.  Untuk melakukan imperialisme, atau gerakan perbahan, diperlukan basis literasi yang kuat untuk melegitimisai dan memperkuat narasinya.

Kembali