Konspirasi Literasi-3: Pertarungan Ideologi
Tahun 1901. Bisa jadi itu adalah tahun awalnya kesialan bagi Pemerintah Kolonial Belanda. Tahun tersebut adalah tahun diberlakukannya politik etis. Ada juga yang menyebutnya politik balas budi. Padahal mana ada imperalis belas kasihan pada koloninya. Yang sesugguhnya adalah untuk melanggengkan kekuasaan dengan menggunakan tangan pribumi. Edukasi, irigasi, dan imigrasi adalah keibijakan yang mencolok mata untuk kepentingan Beland bukan pribumi.
Edukasi yang diberikan adalah untuk mencetak tenaga-tenaga pribumi utuk membantu tenaga teknis administrasi. Irigasi digunakan untuk mengairi tanaman industri untuk komoidtas ekspor, dan imigrasi diakukan untuk memindahkan penduduk supaya bisa membuka lahan baru untuk industri.
Literasi yang berkembang waktu itu, terutam di sekolah-sekolah formal yang didirikan Belanda, adalah untuk melegitimasi keberadaan Belanda , karena kedatangannya ke Indonesia untuk membantu dan memberadabkan tanah Jawa. Di era ini juga dibuka seluas-luasnya sumber-sumber informasi terhadap kebudayaan Barat. Maka pada era ini juga terbitan yang berupa majalah dan buku didominasi dari Barat. Tentu saja dengan tujuan untuk melamehkan budaya pribumi dan untuk membendung arus informaasi Islam dari Timur Tengah. Invasi informasi budaya Barat tentu saja sangat dominan karena difasilitasi oleh pemerintah. Sedangkan informasi dari timur tengah banyak mendaptkan hambatan. Belanda sangat khawatir dengan Islam karena menjadi menjadi budaya tanding bagi Barat yang tentu saja akan menjadi alat perlawanan bagi pribumi.