Matinya Gerakan Literasi ?
Sudah hampir empat tahun gerakan literasi nasional yang digulirkan oleh pemerintah melalui kementrian pendidikan dan kebudayaan. Akan tetapi sampai hari ini tidak terdengan bagaimana hasilnya. Yang palaing penting bagaimana keberlanjutannya. Malah yang dirasaskan semakin hari gerakan literasi ini terasa semakin sayup-sayup dan redup. Negara yang cukup berhasil melakukan gerakan literasi adalah China. Hanya dalam tempo 15 tahun kita saksikan China telah menjadi salah satu kekuatan dunia.
Apa gerangan yang menyebabkan gerakan ini menjadi layu sebelum berkembang, sehingga sebuah gerakan terkesan menjadi hanya gertakan? Menururt saya ada beberapa hal substasial yang tidak dilakukan oleh gerakan literasi nasional:
Pertama, Ideologisasi. Yang saya maksud dengan ideologisasi adalah upaya mengubah cara pandang, paradigma, atau mind-set masyarakat, terutama para fasilitator dan aktivis, supaya membaca dijadikan sebuah keyakinan atau kepercayaan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup. Juga agar membaca dipandang sebagai jalan kenabian atau sebuah titah suci dari Tuhan sebagai cara untuk mengelola dunia. Membaca dijadikan sebuah kegiatan yang memiliki nilai suci yang harus diperjuangkan dan disebarkan secara sadar dan totalitas.
Di sisi lain, negara berperan untuk mengemukakan serangkain ajaran, nilai, dan doktrin yang bertujuan untuk menerangkan dan sekaligus memberi dasar pembenaran bagi pelaksanaan pembangunan budaya literasi. Hal itu dilakukan supaya membaca dapat menjadi karakter bangsa.
Insentif memang perlu sebagai darah gerakan, akan tetapi idealisme adalah roh dari geraan itu. Saya percaya tidak semua orang telah terseret oleh arus pragmatisme, akan tetapi masih banyak orang yang bekerja demi idelaisme. Soekarno pernah berkata, “beri aku sepuluh orang pemuda maka akan aku guncangkan dunia.”
Kedua, Debirokratisasi. Gerakan literasi berjalan dengan lamban karena melalui jalur birokrasi yang panjang dan berbelit. Seharusnya yang namanya gerakan jangan disamakan dengan melaksanakan program-program yang lain. Harus ada jalur khusus seperti penangan wabah atau bencana , karena memang lemahnya budaya literasi juga bencana. Fasilitator atau trainer adalah para pegiat yang tidak merangkap sebagai guru apalagi pejabat struktural karena mereka sangat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan administratif yag sangat banyak yang melekat pada jabatannya. Lebih baik merekrut para aktivis yang meredeka daripada para doktor atau profesor yang terbelenggu oleh birokrasi
Ketiga, Fokus. Gerakan sebaiknya fokus pada dua bidang saja yang paling urgen yaitu literasi dasar (membaca dan menulis) dan literasi sains. Literasi dasar sebagai fondasi pembangunan literasi yang lainnya. Tanpa literasi dasar mustahil bisa melakukan apa pun. Mengapa literasi sains? Tujuan utama literasi sains adalah untuk membangun sikap atau karakter ilmiah (scientific attitude). Masyarakat terbiasa berpikir rasional, mengambil keputusan secara objektif yang didasarkan kepada fakta dan data, serta mampu untuk belajar secara mandiri. Berbicara dan bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan. Tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilain terhadap sesuatu sebelum mengetahui keadaanya dengan baik dan akurat. Gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana ide, tatapi tidak suka berdebat kusir. Menyenangi hal-hal yang baru dan menikmati tantangan serta perubahan. Lapang dada dan toleran dalam perdebatan. Selalu melahirkan gagasa-gagasan baru secara produktif.
Keempat, Jejaring. Kemendikbud kurang bisa menggandeng mitra-mitra strategis. Bagaikan superhero yang ingin membangun budaya literasi sendirian. Superman is dead. Masih banyak lembag-lembaga starategis yang tidak dilibatkan padahal mereka memiliki agenda yang sama akan tetapi dengan nomenklatur yang berbeda.
Empat hal tersebut menurut saya yang urgen dilakukan supaya gerakan literasi tidak mati. Buku-buku pedoman dan panduan yang ada sudah cukup bagus. Akan tetapi itu semua akan hanya menjadi dokumen mati bila tidak dipegang oleh inisiator, fasilitator, dan para pegiat yang tidak memiliki spirit dan idealisme. “Tragedi ilmu terjadi,” kata Alexis Carrel, “manakala teori yang indah dibunuh oleh realitas.” Selamatkan gerakan literasi!