Menurut data BPS, pengangguran sarjana setiap tahun makin meningkat, malah di sebagian daerah menjadi penyumbang pengangguran terbesar. [1]

Apakah karena perguruan tinggi memberikan ilmuyang kelewat tinggi sehingga melesat ke langit  jauh dari bumi tempat manusia berpijak.? Apakah karena universitas memberikan universalitas ilmunya terlalu luas sehingga luber dan tidak tertampung di bumi tempat manusia beraktivitas?  

Atau karena mahasiswanya yang masuk ke perguruna tinggi atau universitas seperti masuk rimba raya tanpa petunjuk arah sehinga linglung dan kesasar . Sehingga begitu kembali ke masyarakat merasa kaget, cemas, depresi, malah ada yang nekat bunuh diri  karena masyarakat tidak mengenalnya atau tidak membutuhkannya.

Atau bisa saja keenakan sebagai mahasiswa , karena menurut Bill Gates[2], yang kuliahnya di Harvard University, “Masa satu tahun di universitas hanya digunakan untuk tidur dan bermain games, kemudian belajar selama dua minggu, setelah itu lulus dalam ujian.”Sehingga dia drop-out karena merasa hanya buang-buang waktu saja. Pendapat Gates diamini oleh Steve Jobs[3] dengan mengatakan, “Setelah enam bulan, saya tidak dapat melihat apa gunanya. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan dalam hidup dan tidak mengerti bagaimana kuliah dapat membantu saya mengetahuinya.”  

Bukan tidak ada gunanya studi di PT atau universitas, akan  tetapi sejak dari awal harus jelas apa yang mau dipelajari dan diperdalam. Itulah perlunya  road map kehidupan supaya  melangkah terarah ke masa depan.  Kata Buya Hamka, “ kalau hidup sekadar hidup, babi dihutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja.”

 


[1] Data bisa di-googling dengan entri “sarjana pengangguran”

[2] Dikutip dari buku Tanpa Sekolah Tapi Sukses. Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2008, hal. 25

[3] Carmine Gallo. Rahasia Inovasi Steve Jobs. Jakarta: Erlangga, 2009, hal. 15

Kembali