Kecerdasan Literasi, Jaminan Masa Depan Anak
Sebuah studi di negara maju melaporkan bahwa para orang tua percaya bahwa asuransi yang pasti bagai masa depan anak-anak mereka adalah kecerdasan literasi. Para orang tua beralasan bahwa tradisi literasi adalah bekal untuk belajar mandiri dan belajar seumur hidup. Selain itu tradisi literasi yang bagus juga selain berkorelasi dengan intelektualitas atau prestasi blejar, ternyata juga berpengaruh positif pada kesehatan jiwa dan mentalitas.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Robert Wilson dari Rush University Medical Centre di Chicago AS menyimpulkan bahwa rutinitas dan seringnya membaca memiliki pengaruh positif dalam menjaga memori otak bekerja hingga usia tua. “melatih otak dengan membaca sejak anak-anak penting untuk kesehtan otak di usia tua.” [1]
Penelitian yang berhubungan dengan membaca juga dilakukan MindLab Internasiona di University of Sussex, Inggris, mengungkapkan bahwa membaca buku lebih manjur daripada musik untuk meredakan stres. Dan itu tidak lepas dari efek imajinatif yang lebih bisa ditawarkan kata daripada nada yang berguna bagi tingkat kesadaran yang sehat. Psikolog syaraf kognitif Dr. David Lewis menyatakan dari studi diadapati membaca menjadi jalur terbaik untuk mengurangi tingkat depresi. Terdata angka pengurangan ketegangan psikis itu bisa mencapai 68%.[2]
Banyak membaca bisa membuat jiwa menjadi sehat dan nyaman karena dapat mengurangi kegelisahan yang diakibatkan oleh terjadinya ketidakseimbangan informasi (resonansi kognitif) yang disebut dengan bibliotheraphy.[3]
Sebuah penelitian selama enam tahun (1996-2002) dilakukan oleh Sarah Miles dan Deborah Stipek dari Sanford university School of Education Californaia, Amerika Seerikat. Objeknya adalah 400 anak TK dan SD di pedesaan dan wilayah kota miskin yang pendidikannya mudah terpuruk dan terabaikan. Dilaporkan bahwa ada keterkaitan antara tingkat kemampaun membaca dengan tingkat agresivitas (suka berkelahi, tidak sabaran, suka mengganggu, dan kebiasaan menekan orang lain atau bullying). Anak-anak yang kemampuan membacanya rendah cenderung memilki tingkat agresivitas yang tinggi. Jadi, bersamaan dengan tingkat pergaulan mereka, anak-anak yang kemampuan membacanya rendah itu frustrasinya kian menumpuk dan keadaan inilah yang membuat mereka menjadi agresif. Sebaliknya, anak-anak yang memiliki kemampuan membaca yang bagus berkorelasi positif dengan sikap sosial (suka menolong, empati, simpati, dan mengihibur team yang sedang susah).[4]
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Robert Wilson dari Rush University Medical Centre di Chicago AS menyimpulkan bahwa rutinitas dan seringnya membaca memiliki pengaruh positif dalam menjaga memori otak bekerja hingga usia tua. “melatih otak dengan membaca sejak anak-anak penting untuk kesehtan otak di usia tua.” [5]
Banyak membaca bisa membuat jiwa menjadi sehat dan nyaman karena dapat mengurangi kegelisahan yang diakibatkan oleh terjadinya ketidakseimbangan informasi (resonansi kognitif) yang disebut dengan bibliotheraphy.[6]
Sebuah penelitian selama enam tahun (1996-2002) dilakukan oleh Sarah Miles dan Deborah Stipek dari Sanford university School of Education Californaia, Amerika Seerikat. Objeknya adalah 400 anak TK dan SD di pedesaan dan wilayah kota miskin yang pendidikannya mudah terpuruk dan terabaikan. Dilaporkan bahwa ada keterkaitan antara tingkat kemampaun membaca dengan tingkat agresivitas (suka berkelahi, tidak sabaran, suka mengganggu, dan kebiasaan menekan orang lain atau bullying). Anak-anak yang kemampuan membacanya rendah cenderung memilki tingkat agresivitas yang tinggi. Jadi, bersamaan dengan tingkat pergaulan mereka, anak-anak yang kemampuan membacanya rendah itu frustrasinya kian menumpuk dan keadaan inilah yang membuat mereke menjadi agresif. Sebaliknya, anak-anak yang memiliki kemampuan membaca yang bagus berkorelasi positif dengan sikap sosial (suka menolong, empati, simpati, dan mengihibur team yang sedang susah).[7]
“Riset tentang membaca selama tiga puluh tahun terakhir menegaskan formula sederhana ini—apa pun jenis kelamin, ras, kewarganegaraan, atau latar belakang sosial akonomi Anda. Siswa-siswa yang paling sering membaca adalah juga merupakan orang-orang yang paling mahir membaca, mencapai prestasi tertinggi, dan bersekolah lebih lama. Sebaliknya, mereka yang tidak banyak membaca, tidak mahir membaca.”[8]
Era sekarang disebut dengan era disruptif dan New Normal yaitu sebuah era yang tidak linear, susah untuk diprediksi. Perubahan bisa terjadi kapan saja. Pabila tidak memiliki fleksiblitas mental dan intelektual maka akan mengalai gagap kejutan budaya budaya atau gagal adaptasi. Kecerdsan literasi adalah bekal untuk mengahdapi era itu, karena dengan memiliki kecerdasan literasi akan terebiasa dengan gaya berpikir yang dinamis, sehingga adaptif terhadap perubahan dan antisipatif terhadap masa depan.
[1] Penelitian itu melibatkan 294 orang dengan usia 55 tahun. Mereka menjalani tes kognitif setiap enam tahun samapi kematian mereka pada usia rata-rata 89 tahun. Mereka juga menjawab kuesioner tentang apakah mereka membaca buku, menulis, atau berpartisipasi dalam kegiatan lain sejak kanak-kanak, remaja usia pertengahan hingga usia mereka saat itu. Setelah mereka meninggal, otak mereka diperiksa. Terungkap bahwa orang yang kerap merangsang otak memiliki tingkat lebih lambat dalam penurunan memori jika dibandingkan dengan yang tidak melakukan kegiatan serupa selama hidup mereka (Media Indonesia, 8 Juli 2013)
[2] Dari penelitian itu juga ada data komparatif bahwa mendengarkan musik bisa mereduksi stres 61%, menyeruput secangkir teh atau kopi menurunkan 54%, serta berjalan-jalan memberi persentase pernurunan 42%. (Koran Tempo, 4 Februari 2014).
[3] Sebuah istilah yang merujuk pada penyembuhan penyakit kejiwaan dengan buku, sudah menjadi topik yang tidak asing lagi di dunia kepustakawanan.
[4] Witdarmono. “Membaca dan Agresivitas.” Kompas, 8 September 2006)
[5] Penelitian itu melibatkan 294 orang dengan usia 55 tahun. Mereka menjalani tes kognitif setiap enam tahun samapi kematian mereka pada usia rata-rata 89 tahun. Mereka juga menjawab kuesioner tentang apakah mereka membaca buku, menulis, atau berpartisipasi dalam kegiatan lain sejak kanak-kanak, remaja usia pertengahan hingga usia mereka saat itu. Setelah mereka meninggal, otak mereka diperiksa. Terungkap bahwa orang yang kerap merangsang otak memiliki tingkat lebih lambat dalam penurunan memori jika dibandingkan dengan yang tidak melakukan kegiatan serupa selama hidup mereka (Media Indonesia, 8 Juli 2013)
[6] Sebuah istilah yang merujuk pada penyembuhan penyakit kejiwaan dengan buku, sudah menjadi topik yang tidak asing lagi di dunia kepustakawanan.
[7] Witdarmono. “Membaca dan Agresivitas.” Kompas, 8 September 2006)
[8] Jim Trealase. The Read-Aloud Handbook. Jakarta: Hikmah, 2008, hal. 24