Hari ini (22-08-2021) tersiar lagi berita di media-media mainstream tentang mahasisiwa S2 ITB yang gantung diri. Tahun lalu (12-07-2020) mahasiswa semester 14 yang stress, kemudian gantung diri karena masalah skripsi  yang tidak kelar-kelara karena selalu ditolak dosennya. Sebelumnya sebuah riset menemukan bahwa 20 peresen mahasiswa cenderung bunuh diri, dan 30,5 persen depresi. Akankah tragedi ini terus berulang?

Betapa rapuhnya mentalitas mahasiswa kita juga gambaran betapa buruknya sistem pendidikan tinggi kita. Pendidikan yang filosfinya untuk memanusiakan menusia malah membunuh kemanusiaan. Apakah pendidikan kita sudah kehilangan sisi kemanusiaanya? Hanya mencetak manusia-manusia  mesin (homo luden) yang diperuntukan kamajuan industri? Apakah setelah menelan sekian banyak korban capaian pendidikan kita akan tetap memakai ukuran materi?  

Kini lembaga-lembaga pendidikan buka lagi tempat mengasah nilai-nilai kemanusiaan malah menjadi pusat-puat dehumanisasi.  Hanya menjadi  lembaga legitimasi hegemoni manerialisme  dan kekauasaan di atas semua entitas bahkan di atas Tuhan. Ajaran-ajaran moral kegamaan makin dipersempit malah sebagian sudah dihilangkan dari kurikulum. (Suhe)

Kembali