Kecerdasan Literasi dan Kecerdasan Buatan
Begitu program Meredeka Belajar diluncurkan Pak Mentri, pendemik corona langsung datang menghantam. Seolah corona mau menguji program Merdeka Belajar ini. Merdeka Belajar sebenarnya sudah dikemukakan hampir seabad yang lalu oleh Ki Hadjar Dewantara. Esensi dari Merdeka Belajar adalah kemandirian dalam belajar. Ini adalah konsepsi yang relevan dengan situasi dan kondisi hari ini dan masa depan.
Tragedi corona yang sedang kita hadapi membuktikan hal itu. Walaupun masih banyak kekurangan karena gagal adaptasi, ternyata kita bisa belajar dari rumah. Kita bisa belajar tanpa sekolah, bisa kuliah tanpa universitas. Dengan kemajuan teknologi informasi, terutama perkembangan kecerdasan buatan, peran-peran tradisional lembaga pendidikan akan mengalami pergesesar besar (megashifting). Meredeka belajar akan semakin menuntut peserta didik untuk mandiri dan kunci kemandirian ini adalah kecerdasan literasi. Karena apabila sudah terasah keceerdasan literasinya spesetta didik akan terbiasa mencari informasi dari sumber yang terpercaya, menganalisisnya, merekontruksinya, dan lebih lanjut bisa menciptakan informasi baru (inovasi). Kreativitas dan inovasi adalah bekal untuk tetap relevan di masa yang akan datang termasuk era New Normal.
Dengan kemajuan teknologi kecerdasan buatan, menurut prediksi, akan ada sepuluh profesi akan hilang karena tidak relevan lagi diantaranya aalah guru, dosen, pustakawan, kasier, travel agen,, penerjemah, pekerja pabrik, jurnalis, akuntan, dan teller bank. Satu persatu prediksi itu menjadi kenyataan.
Dengan kecerdasan literasi siswa dan mahasiswa akan menjadi manusia mandiri yang proaktif yang memiliki kemampuan mengantisipasi, menganalisis, merekontruksi dan memperediksi situasi dan kondisi dan mampu memberikan pemecahan atau solusi.
Kecerdasan buatan akan berkonsekuansi pada gelombang perubahan yang tidak bisa dihindari palagi dilawan. Keceradasan literasi adalah kecakapan yang dapat mengikuti irama atau berselancar di atas gelobang itu.
Tulisan ini disponsori oleh: AKAL (Akademi Kecerdasan Literasi) dan PEKERTI (Penumbuhan Kecerdasan Literasi)