Pada Sabtu (30/5/2020) SpaceX, milik Elon Musk,  mencatat sejah sebagai perusahaan swasta pertama di dunia yang berhail mengirim mansia ke luar angkasa. Cita-cita besarnya adalah mengirim satu juta manusia untuk menjadi penduduk  planet Mars. Musk juga adalah pria yang ada di balik Pay Pal (internet banking) dan Tesla (mobil listrik).

Silicon Valley most inspiring figure of the 21st century. Leonardo da Vinci Abad 21, dan lain-lain julukan keren lainnya untuk Elon Musk menghiasi pemberitaan dunia. Tentu saja kesuksesan tersebut bukan anugerah yang datang begitu saja dari langit, tapi harus ditebus dengan keringat dan air mata.

Salah satu fondasi kesuksesan Elon Musk adalah tradisi literasinya yang luar biasa. Dalam otobiografinya yang ditulis oleh Ashlee Vance, Pria yang menjadi salah satu orang terkaya di  dunia ini,  diceritakan bagaimana kegilaannya pada buku:

Bagian yang paling menarik perhatian dari karakter Elon Musk  ketika masih muda adalah kehausannya yang besar untuk membaca. Sejak masih kecil, dia terlihat selalu memegang buku di tangannya di setiap waktu. Bukanlah hal yang aneh bagi dia untuk membaca sepuluh jam setiap  hari. Di akhir pekan dia dapat membaaca sebanyak dua judul buku sehari.  Sering kali apabila keluarga ini bepergian untuk berwisata sambil belanja dan tiba-tiba di tengah perjalanan baru tersadar bahwa Elon Musk telah menghilang. Maka kakaknya akan mendatangi toko buku terdekat dan akan mendapati  Elon di suatu tempat di ujung toko, duduk di lantai sambil membaca, dalam kondisinya seperti sedang kerasukan.

Ketika usianya makin bertambah, Elon mendatangi toko buku sepulang sekolah pada pukul 2 dan bertahan di sana hingga pukul 6 petang, ketika orang tuanya kembali ke rumah dari bekerja.  Dia membaca buku-buku fiksi, komik, dan non-fiksi. “Beberapa kali mereka menendangku keluar dari toko” kenang Elon. Buku-buku favoritnya di antaranya seperti The Lord of the Rings, seri yayasan Isaac Asimov, dan The Moon is a Harsh Misress karaya R0bert Heinlein, termasuk The Hitchhicker”s Guide to the Galaxy. Pernah suatu waktu dia kehabisan buku di perpustaan sekolah dan perpustakaan di sekitar rumahnyam sehingga dia merayu pustakawan untuk memesan buku-buku baru untuknya. Dia pun membaca Encyclopedia Britannica. Menurutnya bacaan tersebut sangat bermanfaat. “ Anda tidak mengetahui apa yang Anda tidak ketahui. Anda akan menyadari ada banyak hal semcam itu di luar sana.”

Dia memembaca dua set ensiklopedia. Elon memiliki ingatan yang sangat kuat, dan menjadikan ensiklopedia tersebut sebagai sumber informasi. Dia menjadi ensiklopedia berjalan, tahu segala hal. “ Ketika kami memilki pertanyaan” kata salah seorang anggota keluarganya “ kami dapat bertanya kepadanya tentang segala hal. Dia pasti akan mengingatnya.” Elon terkenal denga reputasinya sebagai kutu buku yang akut.” Seorang penulis ilmu pengetahaun memberikan kesan tentang Musk, sebagai “ seseorang yang tampan, ramah dan sopan, serta seorang kutu buku yang parah.”

Elon Musk termasuk orang yang gagal kuliah karena kultur universitas tidak sesuai dengan jiwanya. “ Aku lebih memilih bermain video game, menulis kode perangkat lunak, dan membaca buku daripada berusaha untu mendaptkan nilai A jika tidak ada alsan dan kepentingan tertentu untuk mendapatkannya.”Bidang minatnya keren semua: internet, energi terbarukan, dan antariksa.

Bukan hanya Elon Musk, kalau kita baca biografi inovator kelas dunia lainnya seperti Bill Gates dan Steve Jobs memiliki karakter yang sama. Mereka memliki cara belajar yang  fokus pada bidang yang disukainya sehingga mereka sudah terarah melangkah ke masa depan sejak awal. Rumus sukses mereka adalah: Mimpi, literasi, dan inovasi !

 

Tulisan ini disponsori oleh: AKAL (Akademi Kecerdasan Literasi) dan PEKERTI (Penumbuhan  Kecerdasan Literasi)

Kembali